Close Banner
TK SD BUDHAYA II AGUSTINUS
   
Visi Gereja tentang Pendidikan 
MENDIDIK ALA KATOLIK
Oleh: Mgr. Ignatius Suharyo

Jawabnya sederhana, semua mata pelajaran itu hanyalah sarana untuk mempertajam hasrat dan habitus menuju keutamaan. Kalau itu tidak dipegang sebagai visi dasar, ya tentu saja dunia pendidikan luluh-lantak.


Salah satu definisi pendidikan yang populer di kalangan intelektual adalah definisi yang dikemukakan Dr. Erich Fromm, yakni pendidikan sebagai sarana untuk memanusiakan manusia. Pendidikan seharusnya memberdayakan dan mencerahkan manusia, dan bukan membentuk sedemikian rupa sehingga menjadi entitas yang cepat diserap industri. Pendidikan di Indonesia cenderung mengarah ke sana, yakni menyiapkan insan didik menjadi sosok yang siap kerja dan menjadi bagian dari dunia industri. Di sisi lain, ditemukan fakta bahwa anggaran pendidikan 20% telah terpotong untuk gaji pendidik, sebanyak 200.000 ruang kelas SD rusak, dan 12.000 ruang kelas SMP tidak layak pakai. Apa pendapat Monsinyur terhadap hal ini? Bagaimana seharusnya kita menyelenggarakan pendidikan?

Kalau mau dikatakan lugas, sebenarnya pendidikan (education) adalah upaya membentuk anak-didik untuk punya hasrat dan habitus yang mengarah pada keutamaan (seperti keberanian, persahabatan, kemurahan hati, keadilan, keunggulan, dan semacamnya). Mengapa tidak bicara soal matematika, sejarah, ilmu ukur, geografi, dan sebagainya? Jawabnya sederhana, semua mata pelajaran itu hanyalah sarana untuk mempertajam hasrat dan habitus menuju keutamaan. Kalau itu tidak dipegang sebagai visi dasar, ya tentu saja dunia pendidikan luluh-lantak. Tidak mengherankan kalau ada pelaku para manager bank yang tidak jujur meski pun nilai sekolah atau kuliahnya tinggi. Saya kira sekolah-sekolah Katolik perlu membuat gerakan sederhana dan terus menerus, meski sulit, yaitu mendidikkan habitus keutamaan-keutamaan. Dan berbagai ilmu serta pelajaran dipakai sebagai sarana untuk mendidikkan habitus keutamaan itu. Saya yakin kalau demikian kita akan menghasilkan manusia-manusia yang unggul di masa depan.

Sebenarnya para manager pendidikan Republik ini juga perlu berpikir ke arah itu. Misalnya, di Swedia tujuan pendidikan adalah menanamkan pada anak didik nilai-nilai “kesetaraan”, sedang di Perancis nilai “kefasihan berfikir dalam hidup”. Lalu berbagai pelajaran dan ilmu disusun untuk mencapai perwujudan nilai-nilai seperti itu. Pertanyaannya, apa visi utama pendidikan di Indonesia? Atau kalau disempitkan, apa visi pendidikan sekolah Katolik?

Konsili Vatikan II mengeluarkan satu pernyataan tentang pendidikan Kristen. Mengenai tujuan pendidikan dinyatakan,

“Tujuan pendidikan dalam arti sesungguhnya ialah: mencapai pembinaan pribadi manusia dalam perspektif tujuan terakhirnya dan demi kesejahteraan kelompok-kelompok masyarakat, mengingat bahwa manusia termasuk anggotanya, dan bila sudah dewasa ikut berperan menunaikan tugas kewajibannya” (GE 10).

Salah seorang yang meletakkan dasar pendidikan Katolik di Indonesia adalah Rm. F.X. Van Lith, SJ. Menurut Rama Van Lith, karya pendidikan yang dilakukan oleh Gereja Katolik adalah pilihan yang diambil atas dasar inspirasi iman, sebagai mediasi demi terjadinya transformasi yang membebaskan (perubahan sosial) menuju tata kehidupan yang semakin bersaudara, adil, dan bermartabat. Ketiga unsur ini diharapkan menjadi jiwa dari setiap usaha pendidikan Katolik, sekaligus pengembangan dinamika pendidikan itu sendiri. Berikut dikemukakan gagasan-gagasan pokok mengenai masing-masing unsur:

Pertama, iman. Beriman tidak sekadar berarti menerima dan mengakui kebenaran-kebenaran tertentu. Dalam pengertian Kristiani, beriman berarti menjadi murid Yesus. Menjadi murid Yesus berarti menjadi alter Kristus, atau Kristus-Kristus kecil yang lain yang melanjutkan perutusan yang dilakukan oleh Yesus, yaitu mewartakan Kerajaan Allah, yang adalah kerajaan “kebenaran, damai sejahtera, dan suka cita oleh Roh Kudus” (Rom 14:17). Perutusan ini dapat diwujudkan dalam bentuk-bentuk yang lebih kongkrit lagi, misalnya menjadi teman bagi yang lemah, pemberdayaan masyarakat, karya kesehatan, dan karya pendidikan. Ada seribu satu bentuk perwujudan iman yang selalu perlu dicari dan diperbarui terus menerus.

Kedua, perubahan sosial. Perwujudan iman yang dilakukan dalam berbagai macam bentuk usaha diharapkan menjadi daya yang menggerakkan perubahan sosial menuju kehidupan bersama yang semakin bersaudara, adil dan bermartabat. Dapat disebut misalnya, dari sikap eksklusif menuju sikap inklusif, dari sikap curang menuju sikap jujur, dari sikap feodal menuju demokrasi, dan sebagainya.

Ketiga, karya pendidikan sebagai mediasi. Dari antara berbagai kemungkinan yang dapat dipilih, Gereja antara lain memilih karya pendidikan sebagai mediasi perwujudan imannya. Lembaga pendidikan Katolik diharapkan menjadi kekuatan yang menggerakkan perubahan sosial. Oleh karena itu, di samping mengusahakan keunggulan-keunggulan dalam bidang kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual, lembaga-lembaga pendidikan Katolik seharusnya menjadi pelaku perubahan sosial dan sekaligus tempat yang baik bagi munculnya pelaku-pelaku perubahan sosial. Secara kongkrit pilar-pilar ajaran sosial Gereja mesti menjadi perhatian dalam lembaga-lembaga pendidikan Katolik, yakni penghargaan terhadap martabat manusia, cita-cita kebaikan bersama, solidaritas-subsidiaritas, dan perhatian lebih kepada yang miskin.

Sumber: the Catholic way, Kanisius

Visi Misi TK SD Budhaya Pengajaran yang Sempurna Membangun Martabat Afirmasi

Anak belajar dari kehidupannya Calon "Pengantin'' Noordin M. Top Kata-kata positif untuk anak

Belajar on line

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 TK & SD Budhaya