Close Banner
TK SD BUDHAYA II AGUSTINUS
   
Misi 3 

Tujuan Learning Community

Keberadaan komunitas pembelajaran harus mempunyai tujuan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan dengan akal sehat. Kiranya kurang bisa diterima akal sehat bila komunitas itu hanya menjadi tempat untuk mendapatkan ilmu. Interaksi dalam komunitas pembelajaran sudah selayaknya membuat para siswa ‘menjadi’ kan nyata cita cita mereka. Setiap siswa boleh menjadi apa saja yang baik bagi mereka.

Ciri Ciri Positif Pembelajaran ‘Menjadi’

Tujuan yang jelas bagi pelajar untuk ‘menjadi’ membutuhkan interaksi positif dalam komunitas pembelajaran. Kegembiraan dan kebebasan dalam aktivitas pembelajaran menghilang sejak awal abad 19 hingga kini. Warna pembelajaran adalah muram, tidak alamiah, sulit, dan tidak efektif. Sekolah perlu merancang ulang pembelajaran-nya dari suasana serius, suram, kering, kaku, berpusat pada materi dan guru, lalu menjadi suasana menggembirakan, mengasuh (kepamongan) dan berpusat pada pelajar.

Banyak sekolah mengelompokkan siswa-nya menurut tingkat kecerdasan dan kepandaian dari kelas wahid sampai kelas kambing. Para siswa harus berpacu untuk merangkak dari kelas kambing menuju kelas wahid. Mereka bersaing dalam hal nilai dan rengking. Sementara, para pendidik tahu bahwa nilai rapot dan rengking tidak bisa dipakai sebagai agunan meminjam uang di bank. Sekolah menonjolkan tempat persaingan kesombongan, pengasingan satu terhadap yang lain, putusnya hubungan, individualis. Cara cara pengelolaan komunitas pembelajaran seperti ini melawan hakekat belajar.

Sekolah ‘menjadi’ harus merancang ulang pembelajaran-nya. Siswa tidak bisa ‘menjadi’ tanpa kerja sama. Maka, kerja sama di antara pelajar harus dirancang. Si cerdas dan Si pandai harus berada di antara siswa yang biasa biasa saja. Si cerdas dan Si pandai mempunyai tanggung jawab moral untuk bekerja sama dengan teman temannya yang lain untuk menjadi pandai bersama. Teman teman yang lain melatih bertekun dan gigih pada Si pandai dan Si cerdas.

Pada tahun 1916, E.P. Cubberly, dalam bukunya tentang Penyelenggaraan Sekolah mengatakan: “Sekolah kita, boleh dibilang, sama dengan pabrik yang membentuk dan mencetak bahan mentah (anak anak) menjadi produk untuk memenuhi berbagai tuntutan hidup.” Meier menuliskan: “… lahirlah sekolah jalur perakitan, yakni segala sesuatu dibuat berurutan, dikontrol, dikotak kotakkan, dan distandarkan oleh kantor pusat …” Sekolah rakitan ini lahir di New England, Amerika, pada masa kejayaan Revolusi Industri. Guru menjadi penyelia jalur produksi. Birokrasi menjadi raksasa yang mengontrol, menilai, mengatur, memarahi. Meski sudah memasuki abad informasi, sekolah sekolah di Indonesia masih menerapkan sekolah model pabrik ini.

Perguruan Budhaya mencoba merancang ulang dalam membangun komunitas pembelajaran-nya untuk ‘menjadi’. Ibarat makanan, sekolah rakitan itu seperti menu tunggal. Dari tahun ke tahun, pelajar hanya menjejalkan makanan soto. Maka, pembelajaran untuk ‘menjadi’ perlu sajian makanan model prasmanan. Fokus utama adalah tujuan akhir dari pembelajaran, yakni: ‘menjadi’.

Cara yang dipakai bukan ‘ini’ atau ‘itu’, tetapi ‘ini’ dan ‘itu’, dan yang lainnya. Di mana menyelenggarakan pembelajaran? Belajar bisa di ruang kelas, laboratorium, jalanan, terminal, bandara, sungai, tambak, pembibitan-pembibitan, gunung, lampu merah, kantor, warung, toko, kantin, tempat-tempat sampah, di rumah seorang guru/siswa, etc.

Menentukan Masa Depan

Pelajar menentukan masa depan diri (‘menjadi’) dan menciptakan ide ide baru dalam diri mereka. Bagaimana caranya? Satu satunya cara untuk meramalkan masa depan adalah dengan menciptakannya.

Visi Mental untuk Menjadi

Membimbing pelajar untuk “menjadi” (being) sesuai dengan cita cita yang ingin diwujudkan adalah tugas utama komunitas pembelajaran. Para siswa diajak menciptakan visi mental dalam diri mereka. Tiga/enam bulan pertama adalah masa yang perlu disediakan secara khusus untuk itu. Melalui berbagai cara guru membantu siswa mengembangkan visi mental dalam setiap pembelajaran. Anggota komunitas memilih dua atau tiga cita cita yang akan diwujudkan dalam hidupnya. Selanjutnya siswa memilih tokoh tokoh besar nasional maupun internasional yang sesuai dengan cita cita mereka. Melalui pelajaran bahasa indonesia misalnya, siswa membaca riwayat dan karya karya tokoh idola mereka. Membuat ringkasan, komentar, kesan dan pesan, menentukan satu atau dua hal paling penting dari tokoh itu. Semua karya tulis dikirimkan lewat internet. Melalui berbagai permainan yang diciptakan di komputer atau media lain, siswa terus menghidupkan cita citanya. Memasang foto diri berjajar dengan tokoh itu di komputer, digabung dengan pemandangan alam, artikel, karikatur, komentar, pepatah, puisi, lukisan, kutipan kitab suci, etc.

Senjata utama untuk meraih cita cita bukanlah buku mata pelajaran atau alat alat modern tetapi kata kata bagus. Ketika menghadapi tantangan belajar kebanyakan siswa memunculkan kata: “Aku tidak bisa. Aku tidak secerdas Si Budi. Aku bukan orang yang tekun. Aku bukan pemberani. Dari dulu aku bodoh dalam matematika, etc.” Tugas komunitas pembelajaran adalah mengubah kata kata buruk itu menjadi kata kata bagus. “Aku akan bisa. Aku pasti bisa. Aku usahakan terus dan aku percaya akan bisa,” adalah kata kata yang boleh digunakan dalam komunitas pembelajaran. Membiarkan siswa mengatakan pada diri mereka sendiri “tidak bisa,” itu lah yang terjadi. Sebaliknya, kata kata bagus yang terus diucapkan untuk diri sendiri akan menjadikan Their dreams come true. Kata menjadi kenyataan. Pada mulanya adalah Sabda dan Sabda itu akhirnya menjadi Daging.

Siswa mulai mencari kata kata bagus dalam rangka mewujudkan cita citanya. “Kukira aku cukup tangguh menghadapi kesulitan. Aku semakin tekun untuk terus memperbaiki diri. Mereka selalu menganggap aku bodoh, tapi akan kutunjukkan kalau aku sangat pandai. Guruku mengolok olok aku ketika aku benar satu dari sepuluh soal. Akan kukatakan pada semua teman bahwa aku yakin akan semakin berprestasi. Tunggu saja tanggal mainnya. Mereka akan tercengang cengang melihat prestasi yang kuusahakan.” Setiap kali kata kata buruk muncul untuk diri siswa, pada saat yang sama siswa diajak melawan dengan menggunakan kata kata bagus. Dan, kata kata bagus itulah yang harus menang.

Menjadi dengan Melakukan

Untuk mewujudkan cita citanya, siswa diajak mendaftar kegiatan kegiatan yang sesuai. Semua mata pelajaran diintegrasikan dalam rangka menggapai cita cita. Seorang pelukis butuh makan minum dan membeli bahan bahan lukisan. Maka, mempelajari ekonomi itu penting sekali. Membuka galeri lukisan itu butuh kemampuan yang lebih bersifat ekonomi. Semua mata pelajaran penting, namun bukan yang terpenting dalam belajar. Lalu apa yang terpenting? ‘Menjadi,’ itulah paling penting. Mendesain ulang pembelajaran seperti ini biasanya mendapat pertentangan dari para guru tradisional. Namun, tentangan ini tidak akan menyurutkan usaha mendesain ulang komunitas pembelajaran secara benar.

Para siswa mulai membuat rencana rencana yang bagus untuk melakukan kegiatan bermanfaat. Rencana rencana itu disusun sedemikian rupa menurut perkiraaan waktu yang tersedia. Mereka diajak melihat kaitan subyek pembelajaran dengan cita cita yang akan diraih. Mengajak mereka untuk mengapresiasi semua mata pelajaran yang akan digeluti. Tidak ada pembelajaran yang sia sia sejauh mereka mampu melihat manfaatnya. Mereka perlu diyakinkan bahwa melaksanakan rencana bagus hari ini itu lebih baik ketimbang menunggu rencana sampai sempurna. Sambil melaksanakan rencana yang telah disusun, rencana rencana baru yang muncul bisa diintegrasikan dan disusun ulang.

Menjadi dengan Mempunyai

Sekolah sekolah tradisional lebih menekankan akumulasi pengetahuan. Sekolah yang akan kita ciptakan lebih mengembangkan imajinasi, penalaran, dan ketrampilan hidup. Pengetahuan terus berkembang dari jaman ke jaman. Pengetahuan yang kita pelajari bisa jadi sudah usang. Teori ekonomi Adam Smith sudah ditinggalkan oleh para ekonom abad informasi. Maka, mata pelajaran hanyalah sarana untuk mempelajari hal hal yang lebih penting, yakni mengembangkan imaginasi dan penalaran. Einstein mengatakan: “Imajinasi itu lebih penting daripada pengetahuan.”

Supaya imaginasi dan penalaran terus berkembang, siswa perlu memiliki ketrampilan cara belajar dan ketrampilan hidup. Beberapa penelitian para praktisi dan ahli pembelajaran yang efektif bisa kita ambil. Accelerated Learning misalnya, menawarkan pendekatan SAVI dalam pembelajaran. SAVI singkatan dari Somatis, Auditori, Visual, dan intelektual.

SAVI

a) Somatis berasal dari kata Yunani soma yang berarti “tubuh.” Menurut Dave Meier, dalam bukunya The Accelerated Learning, “Belajar somatis berarti belajar dengan indra peraba, kinestetis, praktis-melibatkan fisik dan menggunakan serta menggerakkan tubuh sewaktu belajar.” Selanjutnya dikatakan: “Jika tubuhmu tidak bergerak, otakmu tidak beranjak.” Menurut Meier, tubuh dan pikiran itu satu. Kebanyakan orang menganggap bahwa berpikir itu kerja otak. Otak dianggap sebagai entitas yang berbeda dengan tubuh. Karena anggapan itu, lalu para guru tradisional menuntut para siswa duduk mematung dan diam mendengarkan dalam pembelajaran. Anggapan ini keliru besar. Sebab, menurut penelitian, tubuh dan otak merupakan satu sistim elektris-kimiawi-biologis yang benar benar terpadu. Menimbang hasil penelitian ini, pembelajaran harus menyertakan tubuh. Sekedar contoh, ketika menjelaskan kata kata inggris break dance (tarian patah patah) guru mengajak siswa menggerakkan tarian itu dengan mengikuti berulang ulang tari patah patah seperti tari bali. Pembelajaran dengan melibatkan tubuh ini mempercepat hasil dan menancapkan memori jangka panjang.

Meier berpendapat bahwa orang dapat bergerak untuk belajar ketika mereka:

b) Pemahaman tentang otak dan pendengaran (auditori) sama dengan pemahaman tentang otak dan tubuh. Belajar melalui pendengaran sebenarnya bentuk pembelajaran yang asli dari manusia. Karya karya sastra klasik Yunani seperti Beowulf, Iliad, dan Odyessey karya Homer diceritakan secara lisan. Suara yang diolah sedemikian rupa mampu menarik perhatian bagi para pembelajar. Suara yang diolah bisa membangkitkan emosi, semangat, dan memperkaya imajinasi. Sangat disayangkan bila para guru tidak mengolah suara sebagai cara yang bisa mempercepat belajar. Sejak Gutenberg menemukan mesin cetak thn.1440, tradisi lisan lambat laun luntur. Pembelajaran lebih terseret ke teks teks cetak yang beku. Pembelajaran menjadi kering dan kurang efektif.

Berikut ini beberapa gagasan Dave Meier untuk mengembalikan cara belajar auditori.

b) Di banding indra yang lain, otak manusia memiliki perangkat lebih banyak untuk memproses informasi berbentuk visual. Meskipun ada pembelajar yang lebih cepat belajar melalui visual, namun setiap pembelajar akan lebih mudah belajar menggunakan visual. Pembelajar akan lebih mudah dan cepat belajar bila mereka melihat contoh dari dunia nyata, peta gagasan, ikon, gambar, etc.

Berikut ini beberapa gagasan Meier untuk mengembangkan pembelajaran visual:

d) Belajar Intelektual

Menurut Meier, “Intelektual” adalah bagian diri manusia yang merenung, mencipta, memecahkan masalah, dan membangun makna. “Intelektual" (menurut cara saya mendefinisikan istilah itu) adalah pencipta makna dalam pikiran; sarana yang digunakan manusia untuk “berfikir”, menyatukan pengalaman, menciptakan jaringan saraf baru, dan belajar. Ia menghubungkan pengalaman mental, fisik, emosional, dan intuitif tubuh untuk membuat makna baru bagi dirinya sendiri. Itulah sarana yang digunakan pikiran untuk mengubah pengalaman menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi pemahaman, dan pemahaman (kita harap) menjadi kearifan.”

Meier mengusulkan beberapa poin berikut ini untuk mengembangkan belajar “Intelektual”:

Belajar menjadi sangat efektif bila keempat hal di atas disatukan dalam satu kegiatan pembelajaran. Bagi komunitas pembelajaran Perguruan Budhaya, pendekatan pembelajaran SAVI diusahakan menjadi ketrampilan standar cara belajar dan mengajar bagi pendidik maupun para siswa.

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 TK & SD Budhaya