Close Banner
TK SD BUDHAYA II AGUSTINUS
   
Guru Idola 

MODEL GURU A / B?

Dari sepuluh soal matematika yang diberikan dalam ulangan, seorang siswa hanya berhasil benar satu, sembilan salah. Guru A berkomentar. “Masak dari sepuluh soal kamu salah sembilan. Kamu keterlaluan sekali bodohnya. Dasar otak udang! Seharusnya kamu tidak sekolah di sini. Kamu hanya memalukan guru dan sekolahmu. Kamu anak tidak berguna!” Demikian guru A menanggapi hasil belajar siswa. Tanggapan guru A ini menghasilkan cacat belajar pada anak. Anak kehilangan harga dirinya dan pupus mental percaya dirinya.

Berbeda dengan komentar guru B. “Dari sepuluh soal, kamu sudah benar satu. Semua dimulai dari angka satu. Besok kamu akan benar dua, dan akhirnya hasilmu akan sempurna. Percayalah, kamu akhirnya akan berhasil. Kapan pun kamu membutuhkan bantuan, bapak siap membantu untuk setiap kemajuanmu. OK? Tuhan selalu memberkati seluruh usahamu.” Demikian tanggapan guru B yang membangkitkan optimisme seorang pelajar yang sedang berusaha menjadi pandai. Fakta yang sama ditanggapi secara berbeda oleh guru B. Guru ini lebih melihat manusia (siswa) sebagai makhluk bermartabat. Karena itu, optimisme untuk menjadi lebih baik dan pengharapan terus ditumbuhkan. (Baca: “Aku Jadi Mengerti” dari St. Theresia; “Kelemahlembutan” dari St. Don Bosco)


Semangat Pak Tino Sidin

Bagi mereka yang berusia 30 tahun ke atas pasti ingat sosok Pak Tino Sidin. Bersahaja dengan topi khasnya, berkaca mata besar dengan tangkai plastik hitam, gigi yang tak beraturan menghiasi senyum sumringahnya, berambut ikal, kebapakan sekali. Pak Tino Sidin selalu membawakan acara Gemar Menggambar di TVRI era 1980an.

Satu hal yang tidak bisa dilupakan dari seorang Tino Sidin, beliau selalu mengatakan, “Bagus!” Satu kata sederhana yang dulu tidak bermakna apa-apa ketika aku kecil. Setelah dewasa, baru paham bagaimana rasanya dipuji meskipun karyaku bukan main jeleknya.

Di sekolah Si Sulung, Guru Menggambarnya berbanding terbalik dengan Pak Tino Sidin. Warna harus naturalis sehingga imajinasi anak terhambat. Aku sangat menyayangkan guru seni yang tidak keluar dari kotaknya. Aku bicara tentang imajinasi anak TK dan SD. Jika imajinasi saja dibatasi, bagaimana besar nanti?

Belajar on line

foto:flickr
JANTUNGNYA SEKOLAH

Mengherankan, orang-orang yang sangat penting di dunia pendidikan mengatakan bahwa "kurikulum adalah jantungnya sebuah sekolah". Pernyataan ini sangat menyesatkan karena menempatkan prasarana sebagai prioritas utama. Supaya sikap kritis terus muncul, mari kita luruskan bersama.

Sederhananya, kurikulum itu bagaikan sebuah peta penunjuk perjalanan pembelajaran yang berangkat dari titik A menuju C, dan berakhir di titik Z. Sekali lagi ini hanyalah peta, meski pun penting.

Jantungnya sebuah sekolah adalah SDM. Ini jantung yang membuat komunitas pembelajaran mampu bertahan dan berkembang. Sekolah Al Farisi di Bandung menempatkan jantung sekolah pada SDM yang berkualitas. Perekrutan-nya sangat terpola. Setelah direkrut, tidak langsung diserahi kelas untuk diampu, harus mengikuti persiapan menjadi guru yang punya Al Farisi Vision selama tiga bulan.

Kita bisa melihat hasil dari komunitas pembelajaran sekolah yang difasilitasi SDM yang berkualitas. Ini hanya sebuah contoh untuk menunjukkan bahwa jantung sebuah sekolah adalah SDM. Kurikulum boleh hebat tinggi mencit selangit, tetapi kalau SDM-nya "eng .. ing ... eng ..." waduh, susah sekali komunitas pembelajaran bisa berkualitas. (Ag)

Belajar on line
 
    LoginAdmin        @copyright 2009 TK & SD Budhaya