Close Banner
TK SD BUDHAYA II AGUSTINUS
   
Maksud Baik 
NIAT BAIK

KESAKSIAN IWAN



Iwan, 18 tahun, siswa kelas 3 SMU yang tinggal kelas, merasa bahwa 8 kunci yang dimasukkan ke dalam kurikulum itu "konyol".

Suatu Senin pagi, Iwan datang lebih awal, ingin berbicara berdua dengan saya. Karena belum pernah saya dengar Iwan membuka komunikasi, dengan antusias saya menemuinya di lorong sekolah. Iwan bersandar pada loker, menatap lantai dengan serius. Saya ikut bersandar di sebelahnya, dan bertanya, "Ada apa, Wan? katanya, "Itu Bu ... soal Kunci-kunci yang selalu Ibu bicarakan itu". "Iya, mengapa kunci-kunci itu?" jawab saya.

"Dahulu saya menganggap Kunci-kunci itu konyol, tetapi ternyata tidak -Kunci-kunci itu penting - terutama 'Berbicaralah dengan niat baik'.

"Adik sepupu saya, Kiki, ialah anak jalanan yang nakal - mencuri, kabur dari rumah. Dia menyebalkan dan orang tak mau memujinya atau mengajaknya bicara baik-baik. Orang selalu berkata, dia tidak berguna dan tidak akan pernah berubah. Jadi, dia mulai mempercayai perkataan itu. Dia masuk geng dan keluar-masuk rehabilitasi anak nakal. Saya satu-satunya yang dia percayai dan yang berbicara baik-baik dengannya. Sabtu lalu dia ke rumah saya. Keadaannya gawat. Dia ingin bunuh diri. Saya coba menghiburnya, bahwa dia masih punya pilihan. Agaknya saya membantunya, tetapi saya marah memikirkan bahwa orang lain tidak mau mencoba membantunya.

"Setelah dari rumah saya, dia tertembak dan tewas. Pada pemakamannya semua orang memujinya - semua hal positif mengenai kemungkinan masa depannya dan potensinya. Padahal, selama hidupnya mereka bicara kepadanya tanpa niat baik. Saya pikir, karena itulah dia telah tiada sekarang. Andai mereka bicara dengan niat baik sebelumnya, mungkin hidup Kiki akan berbeda".

Iwan mengakhiri cerita, "Kini saya paham benar makna Kunci-kunci itu - Kunci itu memang penting". (Sarah Singer-Nourie/Quantum Teaching)

Kembali
 
    LoginAdmin        @copyright 2009 TK & SD Budhaya