Close Banner
TK SD BUDHAYA II AGUSTINUS
   
Pengakuan 
AFIRMASI
Di kebanyakan sekolah, guru lebih mengakui ketepatan daripada proses belajar perseorangan. Apa akibatnya jika guru lebih mengakui ketepatan itu?

Guru A memberi pertanyaan anak-anak TK, "Berapa hasil dari satu tambah satu?" Dengan percaya diri Budi mengangkat tangannya dan menjawab, "Tiga Bu Guru". Guru itu menanggapi, "Salah, masak satu tambah satu saja tidak bisa!" Mendengar penilaian itu teman-temannya serempak menertawakan Budi, malah ada yang mengolok-olok. Dalam hati Budi berkata pada dirinya, "Jangan buru-buru menjawab kalau tidak yakin itu benar". Sejak itu Budi mengasosiasikan bahwa pengakuan sama dengan ketepatan.

Seperti apa tanggapan yang bisa memberi afirmasi (pengakuan) sekaligus memberi penyadaran bahwa jawabannya belum tepat? Guru B menanggapi, "Bagus Budi, kamu berani mencoba menjawab. Tiga itu untuk pertanyaan satu ditambah dua. Kita belum sampai ke situ. Jadi kalau satu tambah dua itu tiga, lalu satu tambah satu berapa?" Akhirnya Budi menjawab, "Dua Bu guru". "Bagus Budi! Jadi, anak-anak hasilnya adalah dua". Budi bukan hanya diakui keberaniannya menjawab, tetapi sekaligus akhirnya bisa sampai pada ketepatan.

Dalam belajar di sekolah, para siswa sangat membutuhkan pengakuan, sekecil apa pun, baru membimbing mereka menuju ke ketepatan. Dengan demikian, dalam belajar, kesalahan mendapatkan tempatnya. Banyak anak di sekolah tidak berani memberikan jawaban dan pendapat di depan guru dan teman-temannya karena takut disalahkan dan dipermalukan. Lalu di sekolah berkembang budaya bisu. Pelajar itu belajar di sekolah justru karena mereka berada dalam situasi serba belum bisa. (Ag)

Anak belajar dari kehidupannya Calon "Pengantin'' Noordin M. Top Bacalah "Mami ...", arahkan anak Kata-kata positif untuk anak

Belajar on line
 
    LoginAdmin        @copyright 2009 TK & SD Budhaya