Sunday, November 22, 2009, 21:47 - EMPLOYEE Posted by Administrator
EMPLOYEE
Tentara, guru, karyawan kantor, hakim, direktor, dokter, dst. adalah termasuk dalam kelompok pekerja. Banyak orang tua mengarahkan anak-anak mereka supaya menjadi pekerja. Ini lah nasehat yang sering keluar dari orangtua mereka:
"Belajar lah nak supaya pandai dan nanti cari pekerjaan yang bagus. Rajinlah bekerja di kantor supaya nanti kamu mendapatkan promosi jabatan sehingga gajimu akan sangat bagus. Dengan demikian masa depan hidupmu menjadi aman".
Anak-anak dididik dan diajarkan menjadi pekerja untuk mendapatkan sejumlah uang dalam hidup mereka. Di sekolah pun para guru kebanyakan hanya memotivasi belajar siswa dan menyelesaikan tugas supaya menjadi pekerja yang baik nantinya.
Lokal Wisdom
Di komunitas pembelajaran Budhaya, supaya berguna bagi orang lain (pekerja), siswa belajar memimpin diri sendiri (leading self) dengan local wisdom (kebijakan setempat) dari Jawa "3K": Ketoro (Terlihat), Ketari (Ditawari), dan Ketampi (Diterima). Siswa menjadikan diri selalu terlihat dengan cara mengelola potensi mereka berupa pengetahuan (knowledge), ketrampilan (skill), sikap (attitude). Siswa harus mencapai kesadaran bahwa dirinya harus terlihat mampu. Dengan demikian, mereka akan ketari (ditawari) kesempatan untuk mengerjakan sesuatu. Kalau sungguh mampu mengerjakan dan bisa diandalkan (reliable), maka mereka akan ketampi (diterima). Kalau sudah diterima, maka di mana pun mereka berada akan selalu dicari. Kalau tidak ada, mereka akan ditanyakan dan dirindukan. Setelah berada pada posisi di atas, maka mereka perlu selalu menunjukkan prestasi dengan "3N". Pertama kita harus bisa Niteni (Memperhatikan): memperhatikan segala pekerjaan yang sudah baik. Kemudian, Nirokke (Meniru): meniru pekerjaan baik itu. Dan, kemudian Nambahi (Menambah): mengembangkan pekerjaan baik itu hingga mendapat nilai tambah (added value) yang lebih tinggi.
"Belajar lah nak supaya pandai dan nanti cari pekerjaan yang bagus. Rajinlah bekerja di kantor supaya nanti kamu mendapatkan promosi jabatan sehingga gajimu akan sangat bagus. Dengan demikian masa depan hidupmu menjadi aman".
Anak-anak dididik dan diajarkan menjadi pekerja untuk mendapatkan sejumlah uang dalam hidup mereka. Di sekolah pun para guru kebanyakan hanya memotivasi belajar siswa dan menyelesaikan tugas supaya menjadi pekerja yang baik nantinya.
Lokal Wisdom
Di komunitas pembelajaran Budhaya, supaya berguna bagi orang lain (pekerja), siswa belajar memimpin diri sendiri (leading self) dengan local wisdom (kebijakan setempat) dari Jawa "3K": Ketoro (Terlihat), Ketari (Ditawari), dan Ketampi (Diterima). Siswa menjadikan diri selalu terlihat dengan cara mengelola potensi mereka berupa pengetahuan (knowledge), ketrampilan (skill), sikap (attitude). Siswa harus mencapai kesadaran bahwa dirinya harus terlihat mampu. Dengan demikian, mereka akan ketari (ditawari) kesempatan untuk mengerjakan sesuatu. Kalau sungguh mampu mengerjakan dan bisa diandalkan (reliable), maka mereka akan ketampi (diterima). Kalau sudah diterima, maka di mana pun mereka berada akan selalu dicari. Kalau tidak ada, mereka akan ditanyakan dan dirindukan. Setelah berada pada posisi di atas, maka mereka perlu selalu menunjukkan prestasi dengan "3N". Pertama kita harus bisa Niteni (Memperhatikan): memperhatikan segala pekerjaan yang sudah baik. Kemudian, Nirokke (Meniru): meniru pekerjaan baik itu. Dan, kemudian Nambahi (Menambah): mengembangkan pekerjaan baik itu hingga mendapat nilai tambah (added value) yang lebih tinggi.
add comment
|



