Wednesday, December 9, 2009, 14:09 - POLA INTERAKSI Posted by Administrator
POLA INTERAKSI
Ciri khas komunitas adalah interaksi antar individu atau individu dengan kelompok. Sejauh mana intensitas interaksi itu sehingga semakin meningkatkan mutu komunitas?
Filsuf Indonesia, Prof. DR Driyarkara mengatakan, “Pendidikan adalah memanusiakan manusia muda.” Masyarakat bisa mengamati seberapa bermakna interaksi antara guru dan siswa, atau siswa dengan teman temannya itu saling mengembangkan kemanusiaan.
Tindakan seorang guru sangat ditentukan oleh cara pandang yang dipakai. Cara guru memperlakukan siswa mengungkapkan persepsinya tentang siswa dan dirinya sendiri dalam menyelenggarakan kegiatan pembelajaran. Dari sini masyarakat bisa mengidentifikasi sejauh mana interaksi selama ini membangun kemanusiaan.
Filsuf Indonesia, Prof. DR Driyarkara mengatakan, “Pendidikan adalah memanusiakan manusia muda.” Masyarakat bisa mengamati seberapa bermakna interaksi antara guru dan siswa, atau siswa dengan teman temannya itu saling mengembangkan kemanusiaan.
Tindakan seorang guru sangat ditentukan oleh cara pandang yang dipakai. Cara guru memperlakukan siswa mengungkapkan persepsinya tentang siswa dan dirinya sendiri dalam menyelenggarakan kegiatan pembelajaran. Dari sini masyarakat bisa mengidentifikasi sejauh mana interaksi selama ini membangun kemanusiaan.
Pola interaksi guru tradisional
Siswa adalah gelas kosong yang terus menerus diisi air. Guru adalah Automatic Terminal Knowledge and Technology yang siap meluncurkan kekayaannya ketika dipencet. Dengan bahasa yang sempat populer adalah bahwa guru mentransfer ilmunya kepada murid. Malah, sempat dikatakan bahwa tugas guru adalah menjejalkan ilmu yang dimiliki kepada murid. Dan ironisnya, ilmu yang dijejalkan adalah ilmu yang dipelajari dengan susah payah waktu masih menjadi mahasiswa.
Bagi guru guru tradisional, belajar adalah mengakumulasi ilmu pengetahuan. Tujuan belajar adalah mendapat nilai dan rengking rapot. Ijazah menjadi sangat penting ketimbang kompetensi. Siswa belajar bagaikan berada di dalam penjara.
Dalam kegiatan interaksi-nya, guru tradisional memandang siswa sebagai pengkonsumsi ilmu yang disajikan guru. Memperoleh ilmu lebih penting dari pada mengembangkan imaginasi, life skill, dan penalaran.
Bagi guru guru tradisional, belajar adalah mengakumulasi ilmu pengetahuan. Tujuan belajar adalah mendapat nilai dan rengking rapot. Ijazah menjadi sangat penting ketimbang kompetensi. Siswa belajar bagaikan berada di dalam penjara.
Dalam kegiatan interaksi-nya, guru tradisional memandang siswa sebagai pengkonsumsi ilmu yang disajikan guru. Memperoleh ilmu lebih penting dari pada mengembangkan imaginasi, life skill, dan penalaran.
Pola interaksi guru sejati
Siswa adalah api yang dinyalakan dan dijaga supaya terus berkobar. Guru adalah kipas angin yang menjaga api tetap menyala dan semakin besar. Siswa adalah tanaman yang membutuhkan pupuk dan air secukupnya. Guru adalah petani yang memupuk dan mengairi tanaman. Guru itu bagaikan bidan yang membantu seorang ibu yang mau melahirkan bayinya.
Kata education berasal dari bahasa Latin educare yang artinya mengeluarkan. Dengan demikian tugas yang paling menantang bagi guru adalah membantu siswa sedemikian rupa sehingga siswa mampu mengeluarkan ilmu dan pengetahuan dalam dirinya. Guru boleh belajar sebanyak banyaknya –termasuk belajar dari siswa-, namun tugas utamanya adalah membantu siswa agar tumbuh segala aspek yang ada dalam diri mereka.
Siswa menciptakan ilmu dalam dirinya. Siswa banyak bertanya pada dirinya dan orang lain, sementara guru membantu siswa supaya menemukan jawabannya. Sebisa mungkin guru tidak memberikan jawabannya. Guru banyak mengafirmasi prestasi yang sudah diperoleh siswa, sekecil apa pun. Kiranya baik kalau sekolah-sekolah tradisional menyusun program program pengembangan-nya didasarkan pada pemahaman pemahaman di atas.
Diberikan oleh Siswa
Guru tidak lebih pandai dari siswa, ia hanya lebih dahulu tahu. Karena itu tidak layak disombongkan ilmu ilmunya di hadapan murid muridnya. Apalagi, untuk membodoh bodohkan muridnya. Pola interaksi yang perlu dibangun adalah kesejajaran dan kesederajatan peran antara guru dan murid. Status memang berbeda tetapi perannya sejajar. Status guru tidak menghilangkan perannya sebagai murid. Guru harus berani berperan sebagai murid yang tekun belajar dari murid muridnya dalam segala hal. Status guru akan semakin bisa diterima sebagai guru justru ketika semakin menjadi murid di depan siswa-nya. Siswa akan lebih cepat belajar justru karena mereka menjalankan perannya menjadi guru. Siswa akan semakin menjadi murid ketika mereka semakin berperan sebagai guru. Pola interaksi seperti inilah yang akan memanusiakan manusia muda dalam pembelajaran.
Bobbi DePorter, Mark Reardon, & Sarah Singer Nourie dalam bukunya Quantum Teaching mengatakan: “Mengajar adalah hak yang harus diraih, dan diberikan oleh siswa, bukan oleh Departemen Pendidikan. Belajar dari segala definisi-nya adalah kegiatan full contact. Dengan kata lain, belajar melibatkan semua aspek kepribadian manusia – pikiran, perasaan, dan bahasa tubuh – di samping pengetahuan, sikap, dan keyakinan sebelumnya serta persepsi masa mendatang. Dengan demikian, karena belajar berurusan dengan orang secara keseluruhan, hak untuk memudahkan belajar tersebut harus diberikan oleh pelajar dan diraih oleh guru.”
Kata education berasal dari bahasa Latin educare yang artinya mengeluarkan. Dengan demikian tugas yang paling menantang bagi guru adalah membantu siswa sedemikian rupa sehingga siswa mampu mengeluarkan ilmu dan pengetahuan dalam dirinya. Guru boleh belajar sebanyak banyaknya –termasuk belajar dari siswa-, namun tugas utamanya adalah membantu siswa agar tumbuh segala aspek yang ada dalam diri mereka.
Siswa menciptakan ilmu dalam dirinya. Siswa banyak bertanya pada dirinya dan orang lain, sementara guru membantu siswa supaya menemukan jawabannya. Sebisa mungkin guru tidak memberikan jawabannya. Guru banyak mengafirmasi prestasi yang sudah diperoleh siswa, sekecil apa pun. Kiranya baik kalau sekolah-sekolah tradisional menyusun program program pengembangan-nya didasarkan pada pemahaman pemahaman di atas.
Diberikan oleh Siswa
Guru tidak lebih pandai dari siswa, ia hanya lebih dahulu tahu. Karena itu tidak layak disombongkan ilmu ilmunya di hadapan murid muridnya. Apalagi, untuk membodoh bodohkan muridnya. Pola interaksi yang perlu dibangun adalah kesejajaran dan kesederajatan peran antara guru dan murid. Status memang berbeda tetapi perannya sejajar. Status guru tidak menghilangkan perannya sebagai murid. Guru harus berani berperan sebagai murid yang tekun belajar dari murid muridnya dalam segala hal. Status guru akan semakin bisa diterima sebagai guru justru ketika semakin menjadi murid di depan siswa-nya. Siswa akan lebih cepat belajar justru karena mereka menjalankan perannya menjadi guru. Siswa akan semakin menjadi murid ketika mereka semakin berperan sebagai guru. Pola interaksi seperti inilah yang akan memanusiakan manusia muda dalam pembelajaran.
Bobbi DePorter, Mark Reardon, & Sarah Singer Nourie dalam bukunya Quantum Teaching mengatakan: “Mengajar adalah hak yang harus diraih, dan diberikan oleh siswa, bukan oleh Departemen Pendidikan. Belajar dari segala definisi-nya adalah kegiatan full contact. Dengan kata lain, belajar melibatkan semua aspek kepribadian manusia – pikiran, perasaan, dan bahasa tubuh – di samping pengetahuan, sikap, dan keyakinan sebelumnya serta persepsi masa mendatang. Dengan demikian, karena belajar berurusan dengan orang secara keseluruhan, hak untuk memudahkan belajar tersebut harus diberikan oleh pelajar dan diraih oleh guru.”
add comment
|



